Tampilkan postingan dengan label tips n' triks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips n' triks. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 April 2011

Berenang Gaya Bebas

"courtesy by you tube"



1. Gerakan kaki
Gerakkan kaki ke atas dan ke bawah secara bergantian (seperti orang yang sedang berjalan kaki), tetapi antara kaki dan paha dengan posisi lurus atau dengkul tidak boleh ditekuk. Gerakan ini dilakukan terus menerus.

Perhatikan:
Selama melakukan gerakan ini, kaki dan paha harus selalu dengan posisi lurus. Dengkul tidak boleh ditekuk. Jadi yang bergerak bukan lutut/kaki, melainkan pangkal paha/pinggul


2. Gerakan tangan
a. Posisi awal, kedua tangan lurus di atas kepala (kedua telapak tangan agak berdekatan, tetapi tidak perlu menempel)
b. Kemudian tarik tangan kiri ke bawah, terus ditarik sampai ke belakang.
c. Kemudian angkat tangan kiri keluar dari permukaan air dan ayunkan tangan kiri tersebut sejauh mungkin ke depan (ketika tangan di atas permukaan air, siku tangan kiri agak ditekuk di dekat telinga. Kemudian diluruskan kembali dan diayunkan sejauh mungkin ke depan masuk ke permukaan air).

d. Pada waktu tangan kiri diangkat keluar dari permukaan air, langsung gerakkan dan tarik tangan kanan ke bawah sampai ke belakang -sama dengan gerakan tangan kiri pada langkah b-.
e. Kemudian angkat tangan kanan keluar dari permukaan air dan ayunkan tangan kanan tersebut sejauh mungkin ke depan (ketika tangan di atas permukaan air, siku tangan kanan agak ditekuk di dekat telinga. Kemudian diluruskan kembali dan diayunkan sejauh mungkin ke depan masuk ke permukaan air)-sama dengan gerakan tangan kiri pada langkah c-.

Ulangi langkah b – e di atas


Jadi urutan gerakan tangan gaya bebas :
Posisi Awal Kedua tangan lurus ke depan
- tarik tangan kiri mengayuh ke bawah sampai ke belakang
- setelah tangan kiri selesai mengayuh sampai ke belakang, angkat tangan kiri tersebut ke atas permukaan air dan ayunkan tangan kiri sejauh mungkin ke depan
- tarik tangan kanan mengayuh ke bawah sampai ke belakang
- setelah tangan kanan selesai mengayuh sampai ke belakang, angkat tangan ke atas permukaan air dan ayunkan tangan kanan sejauh mungkin ke depan
- begitu seterusnya

Perhatikan
Tangan kiri dan kanan bergerak secara bergantian. Ketika tangan kiri selesai mengayuh dan mulai diangkat keluar dari dalam air, tangan kanan langsung masuk ke dalam air dan mengayuh ke belakang, begitu seterusnya.


3. Gerakan kombinasi tangan, kaki & mengambil nafas
Kaki terus bergerak seperti pada point 1 di atas.
Pengambilan nafas dilakukan ketika tangan kiri sedang diayunkan ke depan untuk masuk kembali ke dalam air, sedangkan tangan kanan akan naik ke permukaan air. Pada saat itulah, gerakkan kepala ke kanan untuk ambil nafas.
Begitu juga bila Anda lebih suka bernafas ke kiri, yaitu dilakukan ketika tangan kanan sedang diayunkan ke depan untuk masuk kembali ke dalam air dan tangan kiri akan naik ke permukaan air.
Ketika mengambil nafas, kepala jangan diangkat ke atas, melainkan hanya menoleh ke samping kanan (atau boleh juga ke kiri ...pilih salah satu yang menurut Anda lebih nyaman)

Tips :
1) Kaki terus bergerak (tidak boleh berhenti), walau ketika sedang mengambil nafas.
2) Tangan kanan dan kiri bergerak terus secara bergantian (tanpa jeda /istirahat).
3) Posisi telapak tangan agak menghadap ke luar ketika akan menyentuh permukaan air. Jadi seolah-olah ujung ibu jari tangan yang menyentuh permukaan air lebih dulu.
4) Ketika kepala menoleh ke kanan (atau ke kiri) untuk mengambil nafas, kemudian langsung secepatnya gerakkan kembali kepala ke dalam air. Jangan menunggu gerakan tangan kanan (tangan kiri) selesai.
5) Agar gaya bebas ini bisa lebih cepat dan gerakannya lebih stabil, pengambilan nafas dilakukan setelah 2 - 3 set gerakan tangan. Jadi jangan sekali gerakan tangan langsung mengambil nafas.

Senin, 14 Maret 2011

Belajar Berenang

Mulai Belajar Berenang :

Pengenalan Air
Sebagian besar anak-anak, bahkan orang dewasa yang belum pernah masuk ke dalam kolam renang biasanya akan menjadi takut/cemas ketika akan masuk ke dalamnya, lebih-lebih bila pernah mengalami trauma dengan air.
Untuk itu sebaiknya, mereka masuk ke kolam yang dangkal terlebih dahulu. Setelah terbiasa dan keberaniannya mulai muncul, bisa mulai diajak ke kolam renang yg sedikit agak lebih dalam (Ingat !!! Sebaiknya dia masih tetap bisa menginjakkan kakinya ke lantai kolam renang tanpa tenggelam, kecuali selalu didampingi oleh Anda atau pelatihnya).

Tahap berikutnya :
 

- Ajarkan cara membuang nafas di air, 
dengan cara:
o Suruh dia menghirup nafas dalam-dalam
o Kemudian suruh dia memasukkan kepala ke dalam air
o Kemudian tiupkan nafas melalui hidung ketika kepala masih di dalam air
o Setelah itu naikkan kepala ke atas air sambil membuka mulut untuk mengambil nafas
o Lakukan hal di atas berulang-ulang sampai dia terbiasa dan tidak takut memasukkan kepala ke dalam air

- Suruh melompat dari pinggir kolam ke dalam kolam renang
Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi rasa takut dengan air. Dan bisa lebih enjoy dan menikmati bermain-main dengan air.

- Belajar mengapungkan badan di atas permukaan air
o Bila sudah tidak takut dengan air (berani memasukkan kepala ke dalam air cukup lama), maka Anda bisa memintanya untuk secara pelan-pelan mengapungkan tubuhnya di atas permukaan air. Dengan posisi, wajah dan pandangan mata menghadap ke lantai kolam renang sambil menahan nafas (dilakukan dg santai)

- Belajar meluncur di atas permukaan air
Setelah bisa mengapungkan badan di atas permukaan air, sekarang kita ke tahap berikutnya ..belajar meluncur, dengan cara:
o pada posisi tubuh mengapung di atas permukaan air, kemudian gerakkan kaki naik turun seperti orang yang sedang berjalan (tapi antara paha dan kaki tetap lurus, dengkul tidak boleh ditekuk)

Catatan
Untuk belajar mengapung ini, awalnya bisa dibantu oleh temannya untuk memegangi tangannya, ketika dia berusaha mengapungkan badannya dengan santai di atas permukaan air dan sewaktu mau berdiri kembali.
Untuk belajar mengapung dan meluncur ini, yang paling utama adalah menghilangkan rasa takut dengan air dulu ..lihat langkah-langkah di atas. Lakukan dengan santai saja pasti berhasil.

Untuk belajar berenang yang paling utama adalah menghilangkan ketakutan dengan air lebih dulu.
Keseluruhan tahap di atas mestinya hanya membutuhkan sedikit waktu saja.


Setelah bisa mengapungkan badan dan meluncur di permukaan air, maka bisa memulai belajar 
gaya dada atau gaya bebas

Sebaiknya belajar renang gaya dada atau renang gaya bebas dulu? Biasanya pelatih renang mengajarkan renang gaya dada lebih dulu, karena gaya ini yang paling cepat dikuasai. Tetapi sekarang cukup sering yang mengajarkan gaya bebas lebih dulu. Alasan mengapa gaya bebas diajarkan lebih dulu ..karena dengan menguasai gaya bebas, maka gaya renang lainnya akan lebih mudah dikuasai. Tetapi untuk belajar gaya bebas sendiri akan membutuhkan waktu yang lebih lama.
Jadi terserah Anda mau belajar 
gaya dada atau gaya bebas dulu. Kalau mau cepat ya belajar gaya dada dulu. Tetapi jika Anda punya cukup banyak waktu dan mau lebih lama belajar, ya belajar gaya bebas langsung.

Perlu diketahui
Belajar renang gaya apapun selalu dimulai dengan belajar dan berlatih gerakan kaki lebih dulu.
Jangan pernah putus asa dalam belajar. Berenang seperti layaknya kita belajar berjalan, teruslah mencoba ...maka pasti berhasil.


di kutip dari : allabout-swimming.blogspot.com

Sabtu, 05 Maret 2011

Etika Pencinta Alam


Kegiatan seorang pecinta alam tidak terpisahkan dari lingkungan karena sebagian besar atau bahkan seluruh kegiatan pecinta alam berkaitan dengan lingkungan baik itu lingkungan hutan, gunung, gua, sungai, tebing dan lain-lain. Kegiatan tersebut merupakan wujud kedekatan seseorang dengan alam yang dicintainya.
Kegiatan kepecintaalaman tersebut pada masa sekarang ini merupakan suatu kegiatan yang cukup populer sehingga banyak orang yang ikut serta dan turut menggemarinya. Akan tetapi sekedar gemar saja tidak cukup. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kejadian semakin rusaknya alam akibat dari kegiatan yang mengatasnamakan kecintaannya terhadap alam dan juga terjadinya peristiwa-peristiwa kecelakaan pada saat kegiatan tersebut dilaksanakan, seperti misalnya pendakian gunung, penelusuran gua, arung jeram, panjat tebing dan lain-lain.

Kecelakaan ini bukanlah disebabkan alam yang kejam dan tidak terkuasai, tetapi lebih banyak tergantung pada para pecinta alam itu sendiri.

Demikianlah, kecintaalam tidak hanya menuntut minat dan semangat, namun juga yang terpenting adalah pengetahuan tentang alam dan lingkungannya, kegiatan yang berupa perjalanan alam bebas atau ekspedisi tersebut, seorang pecinta alam harus membekali diri. Bekal tersebut berupa :

1. Mental. Seorang pecinta alam harus tabah menghadapi berbagai kesulitan di alam terbuka tidak mudah putus asa, dan berani. Berani dalam arti sanggup menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan kemudian mengatasinya dengan cara bijaksana dan benar mengakui keterbatasan kemampuan yang dimilikinya.

2. Teknik hidup alam bebas. Meliputi tali temali, PPPK, Metoda komunikasi, perkemahan dan bivak, Navigasi Darat, Survival, Mountaineering, Penelusuran Gua, Penelusuran Sungai dan SAR.

3. Fisik yang memadai. Karena kegiatan kepecintaalaman termasuk olahraga yang cukup berat dan seringkali tergantung kepada kemampuan fisik, maka setiap pecinta alam harus memiliki kemampuan fisik yang cukup kuat untuk menghadapi dan melaksanakan setiap kegiatan tersebut.

4. Etika. Seorang pecinta alam adalah bagian dari masyarakat yang memiliki kaidah-kaidah dan hukum-hukum yang berlaku. Dalam setiap tindakan, seorang pecinta alam diharapkan menghargai kaidah, hukum dan norma masyarakat itu. Demikian sehingga terdapat kode etik pecinta alam yang akan memberikan pedoman sikap pecinta alam.

5. Kesadaran konservasi. Dengan memiliki bekal ini, seorang pecinta alam seharusnya sadar bahwa alam bukan hanya untuk dimanfaatkan demi kepentingan pribadi. Tetapi lebih dari itu, dia dituntut untuk mengutamakan perlindungan dan pelestariannya.

Etika Berkelana di Rimba Raya

Lokasi rimba raya yang menjadi sasaran kegiatan berkelana biasanya jauh dari tempat pemukiman. Rimba raya di Indonesia terwujud dalam berbagai bentuk ekosistem. Diantaranya adalah ekosistem hutan pegunungan, hutan berbukit-bukit, hutan dataran rendah, hutan savana, hutan pantai dan hutan tanah gambut. Sebaiknya kita tidak melaksanakan perjalanan tanpa tujuan yang jelas dan persiapan perencanaan yang memadai. Agar rencana perjalanan berjalan dengan lancar, selamat dan sukses, terlebih dahulu harus diketahui hal-hal yang boleh dilakukan, hal-hal yang tidak boleh dilakukan, kemungkinan yang akan dihadapi, tindakan pada waktu tersesat, perlengkapan yang harus dibawa dan lain-lain.

Pengelana yang bertanggung jawab tidak akan melakukan :

· Menyalakan api secara tidak dikendalikan yang dapat menyebabkan kebakaran hutan

· Merusak tanda-tanda di lapangan, baik tanda-tanda lalu lintas, tanda larangan dan penjelasan tentang obyek-obyek

· Tidak merusak sarana dan prasarana wisata yang ada

· Tidak mengganggu unsur-unsur habitat dan satwa khas yang ada

· Tidak melakukan keisengan-keisengan yang dapat menyusahkan/mencelakakan orang lain (memasang petasan, jebakan dan lain-lain)

· Tidak membuat corat-coret pada pohon-pohon dan batu-batuan (vandalisme)

· Menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang kurang terpuji (menurut norma agama dan adat istiadat)

· Tidak membuang sampah sembarangan, sedapat mungkin dibawa pulang

· Tidak melakukan perburuan satwa, apalagi yang dilindungi

· Tidak merusak tumbuhan dan batuan dengan coretan cat atau menorehnya dengan pisau

· Kurangi sedapat mungkin penebangan/pemotongan pohon dan belukar

· Pada keadaan darurat (tersesat, kecelakaan, perbekalan habis, dan lain-lain) jangan panik. Lakukan prosedur-prosedur yang diperlukan dan cari pertolongan secepatnya

Etika dalam Mendaki Gunung

Ketika anda memutuskan untuk melakukan perjalanan menuju sebuah gunung, tentu anda seharusnya mempersiapkan segala sesuatunya secara matang, baik personil, logistik, perlengkapan maupun pengetahuan medan.

Ketika anda merencanakan untuk menaiki sebuah gunung yang cukup sulit, tentu anda juga akan menyiapkan tim yang ideal dan solid menurut anda, dan anda tahu betul kemampuannya. Perbekalan dan peralatan yang cukup juga situasi medan dan route yang akan anda lalui, kemudian anda siap untuk melakukan perjalanan.

Bahaya tentu saja akan selalu ada baik itu dari anda dan tim anda yang menyangkut kesiapan perlengkapan dan peralatan tim maupun pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki tim dalam melakukan perjalanan. Bahaya dari luar akan selalu ada, tergantung kesiapan tim dan kesolidan tim dalam menghadapinya.

Mental akan sangat berpengaruh dalam perjalanan anda. Sejauh mana kemampuan leader dalam memimpin tim dan respect tim terhadap leader dengan segala keputusannya. Bagaimana sesama anggota tim saling mendukung dan membantu satu sama lain.

Demi keselamatan pengunjung dan kelestarian alam, pendaki hendaknya mematuhi kewajiban sebagai berikut :

1. Sebelum melakukan pendakian, calon pendaki diwajibkan melapor ke pos jaga terakhir, untuk dilihat apakah persyaratan pendakian telah dipenuhi atau belum

2. Pendaki juga diwajibkan melapor ke perangkat desa (terakhir) di rute perjalanan

3. Setelah pendakian, pendaki diwajibkan lapor ke pemberi ijin, untuk memastikan ada tidaknya pendaki yang telambat turun

4. Pendaki diwajibkan memperhatikan kebiasaan dan adat istiadat setempat (pakaian, hal-hal yang ditabukan dan lain-lain)

5. Bila terjadi musibah agar segera ke pos kehutanan dan atau aparat pemerintah setempat

6. Yakinkan bahwa bekas api unggun telah benar-benar padam sebelum ditinggalkan

7. Pendaki agar mempunyai asuransi kecelakaan diri

8. Larangan

Untuk berhasilnya suatu pendakian, agar diperhatikan larangan-larangan sebagai berikut:

· Dilarang keras membawa obor sebagai alat penerangan (pada pendakian malam hari), agar tercegah kebakaran. Sebagai gantinya dapat digunakan senter

· Dilarang membuang benda yang mengandung api (misalnya puntung rokok) selama pendakian

· Dilarang mempergunakan kayu untuk keperluan apapun (api unggun, masak, tongkat)

· Dilarang mengambil tumbuhan dan binatang, telur atau sarang apapun, terutama bila gunung yang didaki termasuk kawasan konservasi (cagar alam, taman nasional)

· Dilarang membuat kegaduhan (berbicara keras, membunyikan alat musik) yang dapat mengganggu kehidupan satwa dan pendaki lain

· Dilarang membuang sampah apapun (kertas, plastik, kaleng). Benda-benda tersebut harus diangkut kembali ke bawah

· Dilarang mencemari lingkungan, termasuk mencoret-coret batu, kulit/akar/daun pohon

· Dilarang melakukan tindakan apapun yang dapat mengganggu keaslian alam.

sumber : para pendaki gunung

Kamis, 17 Februari 2011

MANAJEMEN PERJALANAN

Keberhasilan suatu kegiatan ditentukan oleh perencanaan perlengkapan dan perbekalan yang tepat. Manajemen Perjalanan sendiri merupakan cara cara mengatur perjalanan agar lancar, sesuai dengan yang diharapkan.

Manajemen Perjalanan dibagi menjadi 3 bagian penting, yaitu :

1. Pra Ekspedisi

Ada beberapa tahapan penting yang harus diperhatikan ketika mempersiapkan suatu perjalanan, antara lain :

a. Tujuan
Tujuan merupakan bentuk tindakan lanjut dari sebuah ide, setelah menetapkan tujuan maka kita dapat menetapkan lokasi persis yang dituju, bentuk kegiatannya, waktu pelaksanaannya, dan orang orang yang ikut dalam perjalanan tersebut.
b. Kepanitiaan
Dalam suatu perjalanan harus ada pembagian tugas, sesuai dengan kebutuhan dari perjalanan itu sendiri. Oleh sebab itu perlu dibentuk suatu struktur kepanitiaan yang masing masing posisi dalam kepanitiaan tersebut mempunyai tugasnya masing masing. Contohnya Ketua, bendahara, penanggung jawab, pembina, pelindung, dll.
c. Informasi
Kita harus mengetahui bentuk medan yang akan dilalui sehingga kita dapat mempersiapkan barang barang yang diperlukan, kita juga perlu mengetahui jarak dan lama waktu perjalanan, dll.
d. Perencanaan
Struktur kepanitiaan yang telah dibentuk harus menjalankan perannya dengan benar, sehingga perjalanan berjalan dengan baik. Contohnya :
Ketua : Mengorganisir kepanitiaannya agar bekerja dengan baik
Bendahara : Mengatur jalan masuk dan keluarnya dana
Logistik : Mempersiapkan barang barang yang diperlukan
Dana Usaha : Mencari dana guna terlaksananya perjalanan tersebut
Diklat : Mengatur recruitment peserta dan membuat program simulasi dan latihan
,Dan lain lain.
e. Packing

2. Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan, kita harus sedapat mungkin mengikuti rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika ada perubahan rencana di tengah tengah perjalanan hendaknya dirembukan bersama terlebih dahulu. Selain itu hal yang paling penting adalah bahwa para peserta perjalanan harus selalu mengikuti safety prosedur yang telah ditetapkan.

3. Paska Ekspedisi

Banyak hal yang harus dilakukan ketika kita telah menjalankan suatu bentuk perjalanan, salah satunya membuat laporan perjalanan, selain itu jika diperlukan maka diadakan suatu presentasi kepada organisasi yang mengadakan atau kepada pihak sponsor. Hal hal tersebut penting karena perjalanan yang telah dilakukan dapat menjadi referensi bagi orang lain yang akan melakukan perjalanan serupa.

Sabtu, 23 Oktober 2010

SURVIVAL


Dalam menjalankan kegiatan di alam bebas, sudah seharusnya disadari akan adanya berbagai resiko yang tanpa diduga dapat membahayakan jiwa penggiat alam bebas. Pengetahuan, pemahaman, dan perhitungan akan resiko yang mungkin dihadapi, menjadi faktor yang penting dalam persiapan dan pelaksanaan kegiatan di alam bebas.
Namun perlu diingat, bagaimanapun siapnya kita dalam menghadapi berbagai resiko tersebut, suatu waktu mungkin kita akan menghadapi situasi yang tidak diinginkan.
Survival berasal dari kata survive, yang secara sederhana dapat diartikan upaya untuk mempertahankan hidup.
Suatu keadaan  dapat dikatakan dalam kondisi survival adalah ketika kegiatan berlangsung diluar perencanaan dan membahayakan keselamatan penggiat alam bebas, misalnya kehilangan arah, tersesat, kekurangan stok makanan, menyimpang dari waktu yang dijadwalkan, terkena bencana alam,dll

Mengenal sumber bahaya :
1.   Subjective Danger
Merupakan bahaya yang berasal dari diri kita sendiri, mis. Keteledoran, persiapan yang kurang, pengetahuan yang minimal, dll.
2.  Objective Danger
Merupakan bahaya yang berasal dari lingkungan, mis. Gempa bumi, banjir, badai, longsor, binatang buas, dll.

Faktor penyebab terjadinya kondisi survival :
1.      Psikologis.
Panik, takut, cemas, kesepian/sendiri, bingung, tertekan, bosan, dll.
2.      Fisiologis.
Sakit, Lapar,luka, haus, dll.
3.      Lingkungan.
Panas, dingin, kering, hujan, angin, vegetasi, fauna, dll.

Modal dasar menghadapi kondisi Survival :
·          Semangat untuk mempertahankan hidup.
·          Kesiapan Diri.
·          Alat Pendukung.

Sikap dan tindakan dalam menghadapi Survival :
a.        Tidak panik, tetap tenang
b.        Menyadari kondisi Survival.
c.        Tetap berpikir jernih dan mendalam.
d.        Ingat keberadaan dimana.
e.        Menguasai rasa takut.
f.          Improvisasi mengisi waktu.
g.        Menghargai hidup, tidak putus asa.
h.        Belajar dari apa yang terlihat.
i.          Latih tehnik dasar dan memori yang dimiliki.
j.           Pasrah dan Berdoa.

Lima kebutuhan yang wajib dipenuhi dalam menghadapi Survival.
1.          Air
2.          Makanan
3.          Api
4.          Tempat Perlindungan
5.          Komunikasi dengan pihak luar

PERALATAN SURVIVAL

1.   Korek Api                                           
Korek api yang tahan air berguna namun menghabiskan tempat lebih banyak. Gunakan korek api biasa yang dapat dibuat water proof dengan melapisi kepala korek dengan lilin. Untuk menghemat tempat, buang setengah batang dari tiap korek.
Memang paling mudah menggunakan korek api dalam membuat api, tapi jangan menyia-nyiakannya. Gunakan korek ketika cara alternatif gagal. Ambil satu pada satu kesempatan dan ganti penutupnya. Jangan pernah meninggalkan bungkus korek terbuka atau tergeletak di tanah.

2.      Lilin
Lilin sangat berguna untuk menyalakan api dan sebagai sumber penerangan. Potong kecil-kecil untuk disimpan dalam kotak survival. Lilin yang terbuat dari tallow (lemak hewan) dapat dimakan ketika keadaan darurat atau digunakan untuk menggoreng. Lilin yang terbuat dari parafin dan lilin-lilin lainnya tidak dapat dimakan. Lilin tallow tidak tahan lama, terutama pada cuaca panas.

3.      Batu api
Pada keadaan basah batu api sangat berguna, tidak akan habis seperti korek api.

4.      Lup
Lup dibutuhkan untuk membuat api dengan sinar matahari langsung. Selain itu lup digunakan untuk mencari serpihan-serpihan dan duri pada luka.

5.      Jarum dan benang
Bawalah beberapa jarum dengan mata yang berbeda, termasuk di dalamnya jarum dengan mata besar untuk memasukkan jaringan (yang melekatkan otot dengan tulang) dan benang-benang kasar. Pilihlah benang-benang yang kuat dan lilitkan pada jarum.

6.      Kail dan benang pancing
Bawalah beberapa jenis kail yang berbeda dalam wadah kecil. Kail kecil dapat menangkap ikan kecil maupun besar, sedangkan kail besar hanya dapat menangkap ikan besar. Sertakan benang pancing sepanjang mungkin, akan berguna juga untuk menangkap burung.

7.      Kompas
Pilihlah kompas yang memiliki jarum kompas yang bercahaya, pastikan kita mengerti cara menggunakannya. Kompas yang berisi cairan merupakan pilihan terbaik, pastikan kompas tidak bocor, tidak terdapat gelembung, dan bekerja dengan baik. Penunjuk pada kompas rentan terhadap karat, pastikan jarum melekat pada titik tengahnya dan bergerak dengan bebas.
           
8.      Beta light
Beta light adalah kristal sebesar koin yang mengeluarkan cahaya, ideal untuk membaca peta pada malam hari dan dapat membantu kita dalam memancing.

9.      Kawat
Bawalah kira-kira 60-90 cm. Berguna banyak dalam survival, sisakan untuk membuat perangkap.

10. Gergaji fleksibel
Lepaskan pegangan karena menghabiskan banyak tempat. Kita dapat menggunakan batang kayu kecil untuk menggantikan pegangan ketika kita berada di hutan. Lapisi mata gergaji dengan minyak untuk mencegah karat dan patah.

11. Peralatan medis
Simpan obat-obatan dalam bungkus kedap udara dengan wol katun untuk mengisi ruang kosong.

12. Silet

13. Penjepit Luka

14. Plester

15. Kondom

Jumat, 15 Oktober 2010

Penyakit Gunung


Berbicara mengenai penyakit gunung, sebenarnya tidak ada batasan yang jelas mana yang disebut penyakit gunung itu sendiri. Tetapi dari obrolan-obrolan tentang seringnya gangguan-gangguan yang di alami oleh para pendaki adalah gejala-gejala itu saja, maka sering kita memvonis dengan penyakit gunung.
Contoh-contoh yang sering kita jumpai didalam pendakian :
  •   Mountain sicknes
Ø Gejala :
keringat dingin, kepala pusing, mata berkunang-kunang, perut mual (mau muntah tetapi tidak bisa) seperti orang masuk angin.
Ø Tindakan :
Beri minuman penghangat (teh manis hangat), ganti pakaian yang kena keringat dengan pakaian kering, bila perlu masukkan kedalam kantong tidur. Bila keadaan penderita masih tetap, bawa turun sampai seratus meter lalu istirahatkan.
Ø Pengantisipasian gejala mountain sicknes ini :
Sebelum pendakian (diatas 3000 mdpl) usahakan pada ketinggian kurang lebih dari 1500 mdpl mengadakan aklimatisasi (adaptasi) terlebih dahulu (bagi pemula satu sampai dua hari tetapi ini tergantung dari ketahanan tubuh si pendaki. Jika stamina dan ketahanan tubuh si pendaki bagus maka aklimatisasi cukup dilakukan beberapa jam saja).
  •   Edema Paru
Terjadinya edema paru :
Gejala mountain sicknes yang dibiarkan, dimana terjadinya mountain sicknes tersebut pada kondisi/lokasi yang penuh dengan terpaan angin kencang sehingga lama kelamaan terdapat gelembung udara yang masuk ke dalam paru-paru.
Ø Gejala :
Si penderita mengalami kedinginan yang amat sangat.
Ø Tindakan :
Penderita langsung di bawa turun dan diusahakan secepatnya mendapat pertolongan secara medis yang memadai.
  •   Sun trock
Ø Gejala :
Rasa haus berlebihan kerongkongan kering,dalam tubuh terasa panas.
  •   Dehidrasi
Yaitu gejala ”sun trock” yang meningkat.
Ø Gejala :
Rasa haus berkepanjangan, kerongkongan kering (serasa panas), bila diberi minum (setelah air lewat kerongkongan) elama sekitar 2-5 detik kerongkongan tersa kering kembali.
Ø Tindakan :
Penderita di bawa ketempat yang rindang dan sejuk, usahakan ketempat yang tidak tertutup dimana terdapat udara yang segar, beri minuman yang mengandung vitamin C. Jangan terlalu banyak diberi air minum, dan setelah kondisi normal baru di beri air minum untuk mengembalikan kondisi yang kekurangan zat cair.

  •   Mimisan (hidung berdarah)
Pada suatu dataran tinggi atau pegunungan semakin tinggi keberadaan daerah tersebut semakin kecil tekanan atmosfer dan kadar oksigennya. Sehingga pada saat melaksanakn pendakian, maka terasa sedikit mengalami ganguan pernafasan yaitu pada saat menghirup oksigen terasa sesak. Pada kondisi seperti ini dimana saat menghirup oksigen terasa sesak sementara kita melangkah ke tempat yang lebih tinggi untuk melanjutkan pendakian, maka kita akan melakukam tenaga ekstra untuk menghirup oksigen. Hal demikian apabila berlangsung lama maka pada lobang hidung terasa sakit, kondisi di biarkan terus-menerus maka pembuluh darah akan pecah.
Ø Tindakan :
Turunkan si penderita sampai sekitar 75 atau 100 m dan                  istirahatkan sekitar 1 atau 2 jam.
Ø Peringatan :
Bila darah keluar dari hidung seperti ini lebih baik si penderita di bawa turun langsung.

  •   Flu tulang
Lumpuh sesaat terbagi dalam :
1)      Pada tulang yang patah meskipun sudah sembuh total tetapi tulang tersebut sudah cacat. Artinya terdapat celah sekalipun di pijit sementara sumsum yang terdapat dalam rongga tulang yang telah berlubang akibat patah tulang tersebut. Pada kondisi seperti ini hawa dingin kemungkinan besar masuk kedalam sumsum tulang yang berlubang tersebut bersamaan dengan gelembung udara.
Ø  Tindakan  :
Biarkan saja atau bantu dengan menempel air panas yang yang dibungkus plastik.
2)      Akibat berjalan yang terlalu cepat
Apabila didalam suatu pendakian kita kurang bisa mengontrol kaki atau sedikit berlari, maka pada kondisi seperti ini bila kita langsung berhenti total terjadi pembekuan pada susmsum tulang.
Ø Gejala :
Kaki terasa lumpuh tetapi tidak sakit.
Ø Tindakan :
Istirahatkan saja untuk melepas lelah.